Peran Perempuan Penting Dalam Penanggulangan Bencana

Peran Perempuan Penting Dalam Penanggulangan Bencana

BREBES – Bencana sangat berdampak pada masyarakat terutama jiwa, materi maupun psikologis, mata pencaharian, produktifitas dan kualitas hidup korban sekaligus beban pada keluarga. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Brebes dr.Sri Gunadi, Kamis (28/6).
Saat pembukaan Pelatihan Bagi Kader Pendamping Perempuan Korban Bencana Provinsi Jawa Tengah, Gunadi mengungkapkan, bencana yang sering terjadi di Kabupaten Brebes yaitu tanah longsor, banjir, rob atau abrasi, kebakaran, angin puting beliung yang kebanyakan korban adalah perempuan, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, ibu pasca melahirkan dan kelompok rentan lainya.
“Korban memang banyak kelompok rentan dan juga anak-anak. Apalagi seorang ibu yang baru selesai melahirkan, sulit untuk menyelamatkan diri,” kata Gunadi.
Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana Jawa Tengah, Julia Eko Nugroho mengatakan, dalam penanggulangan bencana peran perempuan sangat penting, karena data korban bencana terbesar adalah perempuan dan anak. Pemahaman tentang kebencanaan belum menyentuh perempuan, sehingga perlu pendekatan gender untuk melakukan pengurangan resiko bencana.
“Ini ditunjukan pada perempuan dan sangat strategis kalau diberdayakan dalam usaha penanggulangan bencana. Karena sekarang mereka belum terlibat dalam mendorong partisipasi untuk ikut mengontrol, menentukan, dan memonitoring terhadap upaya itu,” katanya.
Senada dengan hal itu, perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah, Sri Dewi Indrajati mengatakan, penanganan bencana tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sama antara korban laki-laki, perempuan, orang tua, orang sakit, disabilitas.
“Penanganan bencana harus ada responsif gender karena data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) perempuan memiliki risiko 14 kali lebih tinggi menjadi korban bencana dibanding laki-laki,” tuturnya.
Dia melanjutkan, risiko tinggi perempuan menjadi korban bencana, karena naluri perempuan yang ingin melindungi keluarga dan anak-anaknya, sehingga mereka mengabaikan keselamatan diri sendiri. Selama ini, penanganan korban bencana diperlakukan sama, sehingga hak perempuan sering diabaikan.
“Dengan pelatihan ini diharapkan kader nantinya dapat menularkan pengetahuan ini kepada perempuan-perempuan yang ada di sekitar atau di desanya, yang memang desa itu rawan bencana, lanjutnya.
Lidia Alfi salah satu kader dari Satgas PPA mengaku senang mengikuti pelatihan. “Dengan terlibat dalam pelatihan ini saya mendapat banyak pengetahuan tentang bencana dan bagaimana peran perempuan dalam membantu korban sangat penting terutama untuk perempuan dan anak. Setelah pelatihan ini bisa menularkan ilmu yang di dapat,” ungkapnya. (LA), (B.U)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *