Sudahkah Mayoritas Perempuan Berjelajah Di Dunia Maya?

Sudahkah Mayoritas Perempuan Berjelajah Di Dunia Maya?

Semenjak lahirnya internet, batas jarak dan waktu antar negara menjadi kabur. Sehingga masyarakat dapat berkomunikasi dengan cepat melalui dunia maya. Selain mengaburkan sekat geografis, sebenarnya kehadiran internet telah memberikan dampak yang luas dalam kehidupan masyarakat, baik dalam lingkup ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta pekerjaan. Namun, dibalik kehebatan yang diberikan oleh internet, kaum perempuan nampaknya belum mampu memanfaatkan internet dibandingkan dengan kaum laki-laki. Padahal, salah satu mandat dalam wacana kesetaraan SDGs (Sustainable Development Goals) adalah pentingnya kaum perempuan untuk menguasai teknologi, salah satunya dengan cara mengakses internet.

Walaupun demikian, searah dengan perkembangan teknologi yang juga merubah pola hidup masyarakat, persentase penduduk perempuan berumur 25-64 tahun yang mengakses internet jika dilihat berdasarkan tahunnya memiliki trend naik secara terus-menerus, dimana persentase tertinggi pada tahun 2015 sebesar 17,56%.

Sudahkah Mayoritas Perempuan Berjelajah Di Dunia Maya?

Kenaikan akses internet pada perempuan berumur 25-64 tahun mengindikasikan bahwa perempuan dewasa, baik yang berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga maupun perempuan karir telah memiliki kebutuhan terhadap akses internet. Bagi Ibu Rumah Tangga, internet mempermudah mereka untuk berkomunikasi, bersosialisasi, dan mempermudah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, seperti mendapatkan informasi seputar rumah tangga. Sedangkan bagi perempuan karir, apalagi pada perempuan di ranah usia produktif memang dinuntut keahlian teknologi untuk menunjang karir dan aktualisasi diri agar dapat bersaing dengan kaum laki-laki.

Internet sebagai Senjata

Pada dasarnya, penguasaan terhadap informasi dapat mendorong perempuan untuk berkiprah secara sosial dan bersaing secara sehat dengan laki-laki. Adanya sistem patriarkal di Indonesia, membuat informasi dihegemoni oleh kaum laki-laki, salah satunya adalah melalui akses internet, sehingga kaum yang memiliki akses terhadap pengetahuan tersebut akan diuntungkan secara status ekonomi-sosial. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah salah satu instrumen yang powerful untuk mengurangi ketimpangan gender dan dapat menjadi katalisator untuk pertumbuhan ekonomi, sosial, dan pendidikan yang berkelanjutan. Di bidang ekonomi, perempuan dapat membuka lapangan pekerjaan melalui usahanya yang ditunjang dengan e-commerce, sehingga kesempatan kerja di bidang TI pun terbuka luas.

Akhir-akhir ini kita memang dimudahkan oleh startup atau sebuah usaha yang berbasis internet, khususnya dalam melakukan kegiatan e-commerce. Di Indonesia sendiri memang sudah banyak sekali sosok-sosok yang berhasil menembus dunia startup dengan konsep dan eksekusi yang cemerlang. Hal yang perlu kita ketahui dari kontribusi startup terhadap perekonomian Indonesia bahwa dunia startup tidak hanya dipelopori oleh kaum Adam, namun kaum Hawa juga memiliki andil dalam mendobrak dunia startup.

Bagi para hijabers yang senang dengan trend hijab masa kini pasti sangat terbantu dengan kehadiran salah satu situs e-commerce yang khusus menyediakan busana muslimah dari brand-brand lokal ternama. Lahirnya Islamic fashion e-commerce pertama di dunia pada tahun 2011 tersebut tak lepas dari sosok Diajeng Lestari. Perempuan kelahiran Bekasi ini rela meninggalkan zona nyaman sebagai pekerja kantoran dan mulai membangun pertemanan dengan beberapa desainer muslim yang tergabung dalam komunitas Hijabers Community yang sekaligus membuka jalannya untuk bekerja sama dengan produsen busana muslimah berkualitas. Berkat kerja keras dan ketekunan Diajeng, perusahaan yang awalnya hanya memiliki 2 pegawai tersebut saat ini telah melangkah ke pasar internasional dan berhasil mendapat bantuan dana dari salah satu perusahaan investasi di Amerika Serikat.

Dunia startup yang merupakan ladangnya laki-laki ternyata juga telah lama dijelajahi oleh seorang Nabilah Alsagoff. Kepintarannya dalam melihat potensi pasar keuangan digital di Indonesia dan meyakinkan para klien membuat startupnya yang menyediakan layanan e-payment tidak hanya sebagai perintis jasa pembayaran digital, namun juga menjadi yang terbesar di Indonesia. Tercatat kini sudah ada lebih dari 2000 perusahaan mitra yang tergabung dengan perusahaannya. Untuk mencapai hal tersebut ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan, apalagi startupnya merupakan pemain lokal pertama yang berani masuk di bidang e-payment. Butuh waktu 2 tahun untuk menarik hati para klien mengenai konsep pembayaran online. Nabilah dan timnya juga seringkali bekerja layaknya pemadam kebakaran dimana mereka harus selalu siap setiap saat ketika ada panggilan terkait bisnis, baik ketika ia sedang bersantai, maupun ketika sedang tidur terlelap.

Kerja keras di dunia startup yang membuahkan prestasi juga dialami oleh Grace Tahir. Belum puas dengan karirnya sebagai Direktur sebuah Rumah Sakit, ia mendirikan sebuah situs di bidang kesehatan yang menjadi wadah konsultasi online antara masyarakat dengan para dokter berkualitas mengenai keluhan penyakit kita. Selain dilengkapi dengan artikel seputar info kesehatan, tips, dan pengenalan tentang dunia kesehatan lainnya, situs ini juga dilengkapi dengan fitur Hospital Review dimana konsumen bisa memberikan ulasan layanan kesehatan dan fasilitas rumah sakit layaknya ulasan hotel dan restoran.

Dalam perkembangannya, internet juga melahirkan media jejaring sosial, sepertiFacebook, Twitter, Path, Instagram, dan lainnya yang berujung pada terbentuknya sebuah komunitas virtual. Dalam komunitas virtual tersebut, banyak orang melakukan diskusi publik dan saling berinteraksi secara interpersonal di dunia maya. Hal ini membuat internet berhasil membentuk sebuah gerakan kolektif untuk melakukan kampanye dan menyebarkan isu-isu kemanusiaan dan kesetaraan, sehingga dapat terwujudnya suatu gerakan demi terwujudnya pemberdayaan perempuan. Setiap bulan April media sosial diramaikan dengan kampanye#redmylips yang mengajak masyarakat, khususnya kaum perempuan untuk menggunakan lipstik merah selama bulan April sebagai bentuk kepedulian terhadap kekerasan seksual dan dukungan pada korban kekerasan seksual. Gerakan ini digagas oleh Danielle Tansino yang mengalami pemerkosaan pada tahun 2011. Melalui gerakan ini, Danielle ingin mengutarakan pemikirannya bahwa kekerasan seksual bukan disebabkan oleh perempuan yang “tidak berhati-hati”, namun sebenarnya disebabkan karena adanya keputusan seseorang untuk menguasai dan menyerang tubuh orang lain.

Namun bagaikan sebuah senjata, internet memiliki konsekuensi yang ditanggung oleh penggunanya, khususnya perempuan. Sayangnya, jumlah kasus kejahatan seksual terhadap perempuan berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah pengguna jejaring media sosial. Hal ini dibuktikan dengan maraknya kasus seorang gadis yang dibawa kabur oleh oknum yang tidak bertanggung jawab setelah baru melakukan perkenalan melalui akun media sosial. Kaum perempuan juga kerap kali menjadi korban melalui penyebaran foto-foto vulgar di jejaring media sosial yang tentu saja membuat kaum perempuan terintimidasi baik secara fisik maupun emosional. Hal ini mengingatkan bahwa kaum perempuan juga harus mawas diri dalam mengakses sosial media dan konten-konten lainnya yang ada di internet.

Terkait hal ini, Menteri PP PA, Yohana S. Yembise menegaskan untuk merubah pola pikir masyarakat terhadap perempuan dan internet yang dilakukan melalui pendidikan sejak dini. “Kita perlu melakukan definisi ulang pada pola pikir masyarakat yang menempatkan perempuan sebagai sosok yang tidak memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menguasai teknologi, sehingga perempuan dapat merubah hidupnya menjadi lebih baik melalui akses internet. Pendidikan dan literasi mengenai teknologi juga harus dilakukan dan didukung oleh pemerintah melalui kebijakan berupa kurikulum pendidikan teknologi dan informasi sejak dini. Hal ini perlu dilakukan mengingat pengguna internet di usia muda cukup tinggi, di samping itu agar internet tidak menjadi “senjata makan tuan” bagi para penggunanya,” tegas Yohana

Akses internet memang membawa kita ke suatu peradaban, sehingga peradaban itu sendiri haruslah bersifat adil dan setara bagi siapapun, tidak hanya bagi ranah maskulin. Kaum perempuan juga seharusnya terus berusaha agar memiliki kemampuan untuk menjelajahi internet. Dengan begitu, kaum perempuan dapat membuktikan bahwa dirinya merupakan bagian dari peradaban dunia. (AJI)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *