SOSIALISASI PESANTREN RAMAH ANAK

SOSIALISASI PESANTREN RAMAH ANAK

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Brebes menyelenggarakan kegiatan “Sosialisasi Pesantren Ramah Anak” Kemarin (24/2/22) Kegiatan itu bertempat di Pendopo Brebes Peserta yang hadir berjumlah 100 orang yang terdiri dari pengasuh pondok pesantren, santriawan/santriwati dan JP3M Brebes.

img

Pendidikan anak bisa dilaksanakan melalui pendidikan di rumah, sekolah baik formal, informal dan non formal. Salah satu model pendidikan di Indonesia adalah pesantren. Pendidikan melalui pesantren ini anak didik atau yang disebut santriwan dan santriwati memperoleh ilmu pengetahuan yang sama dengan anak-anak yang bersekolah di sekolah formal lainnya, hanya saja para santri memperoleh pendidikan agama yang lebih mendalam.
Para santriwan dan santriwati yang selama menempuh pendidikannya menetap di pesantren diharapkan mendapatkan pola asuh yang baik dan optimal dari para pengasuhnya, yang dalam hal ini sebagai pengganti orang tua hendaknya dapat memberikan pengasuhan dan pemenuhan 4 hak dasar anak yang baik dan optimal serta dapat memberikan perlindungan kepada anak sehingga anak dapat hidup aman, tumbuh kembang anak nyaman dan tentram, tidak mengalami kekerasan dan diskriminasi anak juga di libatkan untuk pengambilan pendapat, ujar Kepala DP3KB Kab. Brebes dr. Sri Gunadi Parwoko, M.Kes sekaligus membuka kegiatan.

img

Adapun narasumber kegiatan sosialisai ini Kasi PD Pontren Kantor Kementerian Agama Brebes Bapak Akrom Jangka Daosat, MSI Besarnya partisipasi santri di Pesantren, besarnya jumlah pesantren serta pentingnya pesantren dalam menanamkan nilai agama, karakter dan moral menjadikan pendorong dirumuskannya Pesantren Ramah Anak. Dalam perlindungan anak di Indonesia, pesantren memiliki peran yang sangat strategis sebagai lembaga pendidikan islam terbesar dan tertua di Indonesia, dimana pesantren berperan aktif sebagai model pendidikan yang mengupayakan pencegahan tindak kekerasan pada anak di lingkungan pendidikan. Sebab keterlibatan agama dalam perlindungan anak memiliki pengaruh kuat dengan dampak yang luar biasa, demi kepentingan terbaik anak-anak di Indonesia.

Di tempat yang sama ketua PPT “Tiara” Kabupaten Brebes menambahkan batasan usia Anak menurut UU No 35 Tahun 2014 atas perubahan UU No 23 Tahun 2002 Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 Tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Kabid PPA Eni Listiana, S.IP dengan diselenggarakannya kegiatan ini dapat meningkatkan kesepahaman di kalangan pesantren mengenai perlindungan anak. Pemahaman mengenai perlindungan anak berkelanjutan sangat perlu diajarkan ke pada masyarakat sekolah. Selain itu dengan adanya sosialisasi ini dapat menjadikan pilot pesantren ramah anak di Kabupaten Brebes Intinya hak-hak dasar sebagai anak harus terpenuhi sekalipun anak tersebut menjadi santri suatu pondok pesantren. Terlebih anak juga jauh dari orang tuanya sehingga pendidikan yang diberikan perlu didasarkan pada konsep pendidikan ramah anak.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *