Festival Dolanan Anak Tahun 2018 Sukses Digelar

Festival Dolanan Anak Tahun 2018 Sukses Digelar

Dp3KB- Permainan tradisional yang ada diwilayah Brebes pada saat bisa dibilang mulai hilang keberadaanya. Sebab, disadari atau tidak, generasi milenial atau akrab disebut ‘anak zaman now’ lebih menyukai permainan  di gawai dibanding permainan lokal yang ada.  Padahal, permainan tradisional dikenal lebih menyehatkan dan bisa merangsang pertumbuhan syaraf dan kemampuan bersosialisasi.

Inilah yang kemudian menjadi perhatian bagi para pengurus anggota Forum Anak desa Plompong (FORAP) untuk menyelenggarakan  kegiatan festival dolanan anak tahun 2018 di Desa Pelompong Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes. Kemarin.

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh pengurus forum anak desa yang ada di wilayah kecamatan sirampog ini dihadiri oleh ibu Elvi Hendrani selaku Asisten deputi pemenuhan hak anak atas pendidikan, kreativitas dan budaya Kementrian Pemeberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. Rini Puji Astuti, (Kepala  Bidang Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan anak Dinas DP3KB brebes), Muspika Kecamatan Sirampog serta Satgas PPA kecamatan Sirampog.

Kepala Bidang Perlindungan Perempuan Anak Kabupaten Brebes, Rini Pujiastuti menuturkan, perkembangan teknologi yang amat pesat saat ini membuat anak-anak kerap lebih memilih permaian berbasis elektronik.Padahal permainan tradisional yang aktif secara fisik menawarkan banyak keunggulan yang penting bagi kehidupan mereka di masa depan.

“Sebenarnya permainan tradisional ini mampu melatih motorik, kerjasama tim sehingga melatih interaksi sosial dari si anak,” katanya.

Untuk itu, kata dia, pihaknya juga telah menyediakan pusat kreativitas bagi anak. Di sana, anak-anak dengan akan main dolanan tradisional dengan puas dan gratis.

“Ya memang indikator untuk menjadi kabupaten ramah anak adalah termasuk dolanan anak itu sendiri. Supaya anak meluangkan aktivitasnya ke arah positif tidak melulu pakai handphone atau gadget saja,” terangnya.

Sementara itu ketua panitia Alimin menyatakan, kebanyakan anak-anak lebih memilih memainkan gadget atau permainan modern yang minim aktivitas fisik. Padahal, bergerak bagi anak, memiliki banyak manfaat sehingga kegiatan sangat perlu dilaksanakan.

“Anak-anak adalah masa depan bangsa. Kami ingin mengembalikan rasa cinta anak-anak terhadap kebudayaannya sendiri,” Jika saat ini tidak dimulai melestarikan kebudayaan anak-anak, jelas, lambat laun budaya dan ciri khas Indonesia akan hilang. “Ini merupakan tangungjawab kita bersama tambahnya.

Dalam penilaian festival sendiri, panitia bekerjasama dari Dewan Kesenian Kabupaten Brebes. Dasar penilainnya yakni kekompakan, cara mempresentasikan, serta kreativitas anak dalam mengolah bahan bambu sampai menjadi dolanan anak. fatur

 

 

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *